Di Bawah Langit Nirwana - Part 02 (Between Doubt and Faith)

Novel Pendek
Oleh: Rizkynindra
Genre: Romance, Sci-Fi
Bab 2: Antara Percaya dan Ragu

Irky tidak bisa bergerak. Ia terpaku menatap gadis di hadapannya dengan tatapan kosong, seakan otaknya menolak untuk memproses apa yang baru saja ia dengar.
"Nirwana?" Irky akhirnya berbisik, suaranya parau. "Kau... kau bilang kau datang dari Nirwana?"
Kyeri mengangguk perlahan. Senyumnya tetap lembut, tidak terpengaruh oleh keraguan yang jelas terpancar dari wajah Irky. "Ya. Aku dikirim ke sini untuk menemuimu."
Irky mundur selangkah. Tangannya gemetar. Ia menggelengkan kepala, mencoba memahami pikirannya yang mulai berputar kacau di kepalanya. "Bagaimana mungkin tempat itu ada? Ini hanya sebuah mimpi kan?"
"Kau tidak bermimpi, Irky," kata Kyeri dengan nada yang menenangkan. "Ini kenyataan dihadapanmu"
"Tapi..." Irky menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya sendiri. "Nirwana itu... itu hanya konsep. Tempat spiritual. Bukan tempat nyata yang bisa dilihat atau dikunjungi. Dan kau..." Ia menatap Kyeri dari ujung rambut hingga ujung kaki. "mana mungkin ada manusia yang hidup disana"
Kyeri tidak menjawab. Ia hanya menatap Irky dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kelembutan di sana, tapi juga ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang membuat Irky merasa kecil dan rapuh.
"Aku tahu ini sulit dipercaya," kata Kyeri akhirnya. "Tapi percayalah. Aku datang karena doamu. Doa tulus yang selalu kau panjatkan setiap harinya telah mencapai kami di Nirwana."
Irky mengernyitkan dahinya, seolah memikirkan keyakinannya yang penuh keraguan. "Doaku? Aku berdoa setiap hari, bahkan sebelum perang terjadi. Tapi tidak pernah ada perubahan. Dunia masih hancur. Orang-orang masih saling membenci. Lalu mengapa disaat semua sudah hancur kau datang dan langsung mengatakan bahwa kau dari nirwana."
"Aku tahu kamu pasti masih terkejut. Sejatinya, tidak semua doa bisa dikabulkan secara instan. Nirwana memiliki mekanismenya sendiri untuk menjawab doa manusia. Dan kini, Nirwana mengutusku, karena itulah aku di sini," jawab Kyeri. "Untuk menjawab segenap doa-doamu."
Irky terdiam. Ia menatap mata gadis itu, mata biru yang jernih seperti langit cerah yang sudah lama tidak pernah ia lihat. Ada sesuatu di tatapan itu yang membuatnya ingin percaya, tapi akal sehatnya menolak.
"Jika benar begitu adanya, buktikanlah sesuatu padaku, jika kau benar-benar utusan dari Nirwana" kata Irky tiba-tiba. Suaranya lebih tegas kali ini.
Kyeri tersenyum perlahan sembari menjawab permintaan Irky. "Baiklah."

Kyeri berbalik menghadap laut. Angin laut bertiup pelan, menggerakkan helaian rambutnya yang panjang. Ia mengangkat tangan kanannya perlahan, telapak tangannya terbuka menghadap ke arah tengah laut.
Irky hanya bisa berdiri terpaku, menatap punggung gadis itu dengan tatapan penuh tanda tanya.
Dan kemudian, sesuatu terjadi.
Langit yang tadinya kelabu dan tertutup awan tebal mulai bergerak. Awan-awan itu perlahan terbuka, seolah ada tangan tak kasat mata yang menyibaknya. Dan dari celah-celah awan itu, cahaya emas mulai menembus.
Sang surya.
Irky tersentak. Ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Sinar matahari, sesuatu yang sudah tiga tahun tidak pernah ia lihat dengan sempurna, kini menembus langit Bali yang kelam. Cahaya hangat itu menyentuh permukaan laut, suasanya yang awalnya dingin, perlahan berubah menjadi hangat dibawah rona sinar mentari.
Salju yang menumpuk perlahan mulai mencair. Udara di sekitar mereka terasa lebih hangat dari biasanya, dan itu cukup untuk membuat Irky merasakan kehangatan yang sudah lama hilang dari hidupnya.
"Ini..." Irky berbisik, suaranya nyaris tidak terdengar. "Bagaimana kau melakukannya?"
Kyeri menurunkan tangannya dan berbalik menghadap Irky. Senyumnya masih sama, lembut, tenang, tanpa sedikit pun kesombongan. "Apakah ini cukup?"
Irky tidak bisa menjawab. Ia hanya menatap langit yang kini mulai cerah, kemudian menatap gadis di hadapannya. Pikirannya kacau. Ia ingin percaya, tapi dirinya masih menolak untuk menerima kenyataan ini.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Irky, suaranya bergetar.
"Aku sudah mengatakannya," jawab Kyeri dengan tenang. "Namaku Kyeri. Aku datang dari Nirwana. Dan aku di sini untuk membantumu."
"Membantu aku... bagaimana?"
Kyeri tidak langsung menjawab. Ia berjalan perlahan menuju tepi pantai, matanya menatap laut yang kini terlihat lebih hidup dengan sinar matahari yang meneranginya. "Aku tidak bisa memberitahu semuanya sekarang, Irky. Ada hal-hal yang harus kau temukan sendiri."
Irky kembali mengernyitkan dahinya. "Kenapa? Kenapa kau tidak bisa bilang sekarang saja?"
"Karena perjalanan ini bukan hanya tentang apa yang harus kulakukan," kata Kyeri tanpa menoleh. "Tapi juga tentang siapa dirimu. Aku perlu memastikan bahwa kau adalah orang yang tepat."
"Orang yang tepat untuk apa?"
Kyeri berbalik, menatap Irky dengan tatapan yang dalam. "Untuk mengembalikan cahaya ke dunia ini."

Mereka berjalan dalam diam menyusuri pantai Kedungu. Salju masih turun, tapi lebih tipis dari sebelumnya. Sinar matahari yang tadi sempat muncul kini mulai redup lagi, tertutup awan kelabu yang kembali menyelimuti langit. Tapi Irky masih bisa merasakan sisa-sisa kehangatan yang tadi sempat ia rasakan.
Kyeri berjalan di sampingnya, tanpa berkata apa-apa. Ia hanya mengamati sekitar, pohon-pohon kelapa yang tertutup salju, rumah-rumah yang sebagian hancur, jalanan yang sepi tanpa seorang pun.
"Dunia ini... sangat berbeda dari yang dulu," kata Kyeri tiba-tiba. Suaranya lembut, hampir seperti bisikan.
Irky mengangguk. "Kau tahu seperti apa dunia ini sebelum perang?"
"Aku bisa melihatnya," jawab Kyeri. "Aku bisa melihat kenangan-kenangan yang tersimpan di tempat ini. Aku bisa merasakan kehangatan yang dulu pernah ada di sini."
Irky terdiam. Ia menatap jalanan yang sepi di hadapannya. "Dulu, pantai ini penuh dengan orang. Anak-anak bermain di pasir. Orang-orang tertawa, berbincang, menikmati matahari terbenam. Tapi sekarang..." Ia menghela napas panjang. "Sekarang, tidak ada yang tersisa selain dingin dan kesunyian."
Kyeri menatapnya dengan tatapan yang penuh empati. "Kau merindukan masa itu?"
"Tentu saja," jawab Irky. "aku rindu masa dimana manusia saling bertegur sapa, saling berpelukan dan bercanda tawa."
"Tapi kau masih di sini," kata Kyeri. "Kau masih berdoa setiap hari. Kau masih percaya bahwa dunia ini bisa berubah. Kenapa?"
Irky terdiam. Ia tidak pernah benar-benar memikirkan pertanyaan itu sebelumnya. Ia hanya melakukannya karena itu satu-satunya hal yang bisa ia lakukan.
"Aku tidak tahu," jawabnya akhirnya. "Mungkin karena aku tidak punya pilihan lain. Kalau aku berhenti percaya, apa yang tersisa? Aku akan jadi seperti orang-orang lain di luar sana, hidup dalam ketakutan, kecurigaan, dan kebencian. Aku tidak mau jadi seperti itu."
Kyeri tersenyum mendengarnya. "Itulah kenapa aku di sini, Irky. Karena kau berbeda. Karena hatimu masih murni."
Irky menatapnya dengan tatapan penuh tanya. "Tapi aku bukan orang suci. Aku juga punya kemarahan, kekecewaan. Aku juga pernah membenci dunia ini."
"Tapi kau tidak membiarkan kebencian itu menguasaimu," kata Kyeri. "Kau memilih untuk tetap berdoa. Kau memilih untuk tetap berharap. Itulah yang membuatmu berbeda."
Irky tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya bisa berjalan dalam diam, memikirkan kata-kata Kyeri.

Mereka berhenti di sebuah bukit kecil yang menghadap ke laut. Dari sini, Irky bisa melihat garis pantai Kedungu yang membentang panjang, tertutup salju putih yang kontras dengan ombak kelabu di bawahnya.
"Aku hidup sendiri..." kata Irky tiba-tiba. Ia tidak tahu kenapa ia mengatakan itu, tapi kata-kata itu keluar begitu saja. "Sebelum perang, aku memang sudah hidup sendiri. Keluargaku... mereka ada, tapi jauh. Aku memilih untuk hidup di sini, di Tabanan, karena aku suka ketenangan."
Kyeri mendengarkan tanpa menyela.
"Tapi setelah perang..." Irky menarik napas dalam-dalam. "Setelah perang, ketenangan itu berubah jadi kesepian. Dulu, aku bisa pergi ke pasar, berbincang dengan tetangga, atau sekadar duduk di kafe sambil menonton orang-orang lewat. Tapi sekarang, semua orang menutup diri. Semua orang takut. Tidak ada lagi senyuman. Tidak ada lagi percakapan yang tulus. Hanya... kesunyian."
Kyeri menatapnya dengan tatapan yang lembut. "Kau kesepian."
Irky mengangguk perlahan. "Ya. Aku kesepian. Tapi aku tidak tahu harus bagaimana. Aku tidak bisa memaksa orang untuk kembali seperti dulu. Aku tidak bisa mengubah dunia sendirian."
"Kau tidak sendirian," kata Kyeri. "Aku di sini sekarang."
Irky menatapnya. Ada sesuatu di tatapan Kyeri yang membuatnya merasa... aman. Seolah untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, ia tidak sendirian lagi.
Tapi ia masih ragu.
"Kenapa aku?" tanya Irky. "Kenapa kau memilihku? Pasti ada orang lain yang lebih baik, lebih kuat, lebih... layak."
Kyeri menggeleng pelan. "Bukan tentang siapa yang lebih baik atau lebih kuat. Ini tentang siapa yang masih memiliki hati yang murni. Kamu, Irky Narendra, adalah salah satu dari sedikit orang yang masih memilikinya."
Matahari mulai terbenam, atau setidaknya, nuansa sore yang dingin menghampiri mereka. Salju turun lebih deras lagi, menutupi jejak kaki mereka di pasir.
Irky masih berdiri di tepi bukit, menatap laut dengan tatapan kosong. Pikirannya penuh dengan pertanyaan. Ia ingin percaya pada Kyeri, tapi bagian dari dirinya masih ragu. Bagaimana jika ini semua hanya ilusi? Bagaimana jika besok ia bangun dan menyadari bahwa semua ini hanya mimpi?
"Kau masih ragu," kata Kyeri, seolah bisa membaca pikirannya.
Irky mengangguk pelan. "Ya. Aku... aku tidak tahu apa yang harus kupercaya lagi."
Kyeri terdiam sejenak. Kemudian, ia melangkah lebih dekat ke arah Irky. Langkahnya pelan, lembut, seolah ia takut menakuti Irky.
"Kalau begitu," kata Kyeri dengan suara yang hampir seperti bisikan, "biarkan aku menunjukkan sesuatu padamu."
Irky menoleh. "Menunjukkan apa?"
Kyeri tidak menjawab. Ia hanya tersenyum dengan tulus, dengan pembawaan penuh misteri.
Kemudian, ia mengangkat kedua tangannya perlahan.
Dan sebelum Irky sempat bereaksi, Kyeri menutup kedua mata Irky dengan telapak tangannya yang hangat.
"Percayalah padaku," bisik Kyeri. "Ikut aku."
Saat itu juga Irky memejamkan matanya. Beberapa detik kemudian ia merasakan ada sesuatu yang berbeda. Tidak ada lagi sensasi dingin dari salju. Tidak ada lagi suara ombak. Hanya kehangatan dari tangan Kyeri, dan seakan-akan ia merasakan ada seberkas cahaya terang yang mengelilinginya saat ia menutup mata.
Ia merasakan tubuhnya terangkat, seolah ia kehilangan gravitasi. Ia ingin membuka mata, tapi entah kenapa ia tidak bisa. Atau mungkin ia takut.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Irky, suaranya bergetar.
"Tunggu saja, aku akan mengajakmu ke tempat di mana semua jawaban dimulai," jawab Kyeri dengan lembut. "Sampai"
Irky membuka matanya dan kemudian, ia terkejut, dunia di sekitarnya berubah.

[Bersambung]